Penyulut Rindu

Teriring salam bersampul rindu,
Kutulis kata dari doa yang bersemu,

Teruntukmu yang ridhomu adalah ridho-Nya,
Gerimis urung turun siang ini. Tapi malah mulai merambat dalam hatiku. Sudah lama ya kita tak beradu tatap? Hampir sewindu, dan rasa ini berakumulasi menjadi mega rindu yang tak teradu. Aku tahu harap ini hanya semu, tapi tak lantas haram aku merindu, kan? Aku hanya ingin memutar kembali roda memori. Lewat kata-kata yang kutulis. Seperti surat cinta pertamaku padamu kala aku kelas 3 SD silam. Aku ingat surat itu, tulisan seadanya bersama sehelai kerudung yang kubeli depan sekolah. Sangat sederhana, tapi aku ingat senyummu indah membahana. Aku ingin menulis lagi. Tentangmu yang namanya tak pernah absen menutup bait-baik harapku.

Teruntukmu yang murkamu adalah murka-Nya,
Tak terhitung sudah berapa kali aku mengecewakanmu. Atau bahkan dibalik senyum teduhmu, mungkin aku pernah menyakiti hatimu. Maaf, tak banyak yang bisa kulakukan saat itu. Saat seharusnya menunaikan permintaanmu adalah ladang amal buatku. Tapi aku masih berlagak lugu, dan tak tahu saat-saat itu akan segera berlalu. Maaf, mungkin kata itu tak tepat lagi aku lontarkan. Tapi tak akan jemu untuk kuucap bersama bait munajatku. Aku ingin mengingat lagi. Tentangmu yang potretnya selalu terbayang di tengah robitohku.

Teruntukmu yang pada telapak kakimu ada jannah-Nya,
Terasakah olehmu manisnya surga? Aku harap bayangan akan itulah yang engkau rasakan sekarang. Selalu dalam munajatku bahwa keberkahan lah yang melingkupimu, bukan siksa pun kepedihan. Ya, keberkahan. Sebagaimana kolak pisang dan bakwan goreng hidanganmu yang kita santap bersama kala ifthor, manis dan penuh berkah. Lalu kita tarawih bersama. Dan di akhir bulan engkau kenakan terusan putihmu lalu engkau relakan kucium khidmat tanganmu. Tangan yang telah membuat aku sampai bisa seperti ini. Memori itu ranum sekali. Aku ingin mengenangnya. Tentangmu yang senyumnya selalu menyejukkan hatiku.

Teruntukmu yang senyummu adalah mimpiku,
Seperti saat aku meraih juara pertama kala kelas 1 SD dulu. Telapak tangan kita beradu hebat, tanda ‘tos’. Senyummu lebar sekali waktu itu, sampai gigi putihmu terlihat. Sejak itu tekadku bulat, senyum itulah yang selalu ingin aku terbitkan darimu, walau kutahu senyum itu kini semu. Aku tahu senyumlah yang terlukis di wajahmu kala engkau sambut aku lahir di dunia. Maka akan aku lepas engkau dengan senyum ikhlas, walau hati ini kadang ingin berkhianat. Senyum ikhlas dan syukur, bahwa seorang wanita bak bidadari pernah hadir mewarnai kanvas hidupku dengan warna yang indah. Semoga pertemuan kita nanti adalah sebuah keniscayaan, kala jemari kita bertaut dan bersama dalam jannah-Nya. Aku tak akan pernah mau melupakanmu. Engkau, yang dengan hangat selalu kupanggil Mamah..

.
Dari anakmu yang selalu berharap tiap gores tulisannya dapat memberi kebermanfaatan,

Di salah satu sudut Kota Yogyakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s