15 Tahun Anomali

Sejenak kita kembali ke memori 15 tahun yang lalu. Ketika pagi itu dua pesawat menabrak gedung kembar WTC New York. Satu jam berselang, satu pesawat lain juga menabrak Pentagon. Kurang lebih 3000 jiwa menjadi korban dalam insiden ini. Diduga pesawat tersebut dibajak oleh orang Arab–dikuatkan dengan paspor arab yang tidak terbakar, padahal semua barang lain terbakar habis saat itu–muslim. Alhasil, semenjak peristiwa tersebut, seantero AS menjadi antipati terhadap muslim. Penjagaan diketatkan. Alih-alih bisa berdakwah disana, warga Muslim yang ingin masuk ke AS dipersulit. Bahkan respon masyarakat cenderung diskriminatif. Wanita berhijab tak lagi bebas. Demam ini tidak hanya melanda AS, pasca 9/11, negara-negara di Eropa juga menjadi was-was dengan gerak-gerik Muslim.

Terlepas dari berbagai teori konspirasi yang menguak cerita dibalik 9/11–seperti dalam dokumenter Loose Change yang dibuat pemuda AS, dimana 75 ilmuwan dan profesor berkata, “Kami tidak dapat memercayai 19 orang Arab dapat membajak pesawatnya dan menabrakkannya ke gedung kembar. Ini pekerjaan orang dalam yang dilakukan Gedung Putih”. Ataupun kecurigaan mana mungkin tabrakan pesawat dapat menghancurkan gedung sampai ke dasarnya–sesungguhnya sangat tidak berbudi bila Islam dituding menjadi dalang insiden ini, ketika jelas-jelas dalam QS. Al Maidah:32 Allah swt berfirman, “..Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya..”.

Namun ada yang menarik untuk dicermati pasca 9/11. Bukan tentang semakin dideskritkannya Islam oleh media. Bukan juga tentang agresi militer besar AS ke negara Timur Tengah yang dilakukan dengan dalih memberantas teroris–yang lantas mengorbankan banyak orang tak bersalah–. Bukan itu. Tapi secara statistik jumlah pemeluk Islam di AS justru meningkat secara konstan pasca 9/11. Disaat citra Islam dimarginalkan, justru buku-buku Islam laris di AS. Al Quran terjemahan diburu. Masyarakat –yang sebelum 9/11 belum tahu tentang Islam–ingin tahu tentang Islam. Hal ini lantas menjadi anomali. Sebuah pembalikan asumsi publik dimana Islam justru mencuat saat dihujat. The Population Reference Bureau USA Today sendiri menyimpulkan: “Moslems are the world fastest growing group”.

Anomali ini menjadi bukti bahwa Allah selalu punya cara menjaga Islam dari  orang-orang yang mencoba menjatuhkannya. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ath Thariq:15-16, “Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir itu) merencanakan tipudaya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Aku pun merencanakan tipudaya pula, dengan sebenar-benarnya.”

Pasca 9/11, kacamata media global terhadap Islam memang cenderung ofensif. Walaupun segala teori tentang 9/11 masih berupa hipotesis yang belum terbukti. Di tengah huru-hara tersebut, muslim mencoba untuk terus menyebarkan salam ke dunia. Sebagaimana dengan misi dari Islam untuk menjadi rahmat bagi seluruh Alam. Muslim di AS terus mencoba untuk menunjukkan citra baik Islam dan menjadi teladan di tengah lingkungan yang cukup diskriminatif. Momentum ini maka harus kita jadikan sebagai gebrakan terhadap gerakan dakwah Islam. Apalagi dengan perayaan Idul Adha yang diambang mata. Sebuah syiar Islam besar-besaran akan ditampilkan ke mata dunia. Ketika di wilayah yang asing Islam berkembang cukup pesat, jangan sampai Islam tetap statis di ‘tanah sendiri’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s