Berdamai Dengan Alam

Assalamu’alaikum

Hujan turun menyapa bumi. Menjadikan lereng tanah menjadi licin. Tapi langkah-langkah itu tak serta terhenti. Langkah dua puluh pasang kaki yang tetap dikuatkan. Meski penat telah di ujung ubun-ubun. Sayup-sayup suara siamang bersahutan dibalik pepohonan. Matahari mengintip malu dibalik awan gelap. Aroma pohon nipis menyerbak. Waktu bergulir, jam demi jam berlalu. Tapi puncak itu belum nampak. “Allahu Akbar!” Hanya kalimat takbir yang silih berganti lah pemompa tensi semangat kami. Perlahan cahaya menyeruak di kaki langit. Sebentar lagi, puncak itu kami takluki.

15 Mei 2016, Kalam FT Unsri melakukan agenda rihlah terkhusus ikhwan. Ane pun berkesempatan untuk ikut agenda tersebut. Pukul 8.00, kita berkumpul di gerbang depan Unsri. Peserta yang ikut ada 19 orang. Setelah cukup lama menunggu (maklum ya ngaret), akhirnya kita berangkat sekitar pukul 9.30 dari Indralaya. Bis yang kita naikin itu bis pasar biasa. Jadi yah.. maklum kalo agak lambat dan bikin ga nyaman buat tidur haha. Alhasil, estimasi waktu tiba pukul 5.00 sore molor jadi pukul 9.00 malam -.-.

Kita tiba di desa Kota Batu, Ranau, OKU Selatan. Disana kita nginep dulu di rumah salah satu warga. Rumahnya model panggung. Asiklah.. apalagi langsung disuguhi makan haha. Setelah nginep semalem, paginya kita bersiap untuk mulai jalan ke Gunung Seminung. Sehabis makan (lagi), dan pemanasan singkat, perjalanan dimulai! Puncak Seminung, here we go!

Pukul 9.00 kita mulai jalan. Kita ngambil jalan memutar lewat pemukiman warga. Bisa sih sebenernya langsung nyebrang danau supaya cepat. Tapi guide kita berkata lain. Yaah kita mah sami’na wa atho’na aja. Track nya cukup terjal juga. Bawaan kita emang ga terlalu banyak, karena sebagian ditinggalin di penginapan. Tapi kita bawa stok air lumayan banyak. Mengingat di gunung nanti gaada sumber mata air, jadi harus bawa persediaan untuk hajat air 19 orang. Butuh waktu sekitar 2 jam buat nyampe di langgar al-muttaqin. Sebuah tempat peristirahatan yang jaraknya 50 m sebelum pintu rimba Seminung. Di sinilah sumber air terakhir yang dapat ditemui. Jadi kita minum dan isi ulang air dulu disini. Sembari istirahat dan sholat jama’ zuhur-ashar.

Selepas 45 menit, kita mulai jalan lagi. Setelah melewati pintu rimba, maka jalan yang tersisa adalah benar-benar jalan hutan yang terjal. Di sebelah kiri dan kanan jurang bergantian menyapa. Tapi panorama Danau Ranau yang indah dari kejauhan selalu bisa menetralisir penat yang ada. Di tengah perjalanan, cobaan datang lagi. Hujan turun. Jalan menjadi lebih licin. Tapi sejatinya inilah letak tarbiyah kita. Untuk saling menolong dan memberi semangat, dalam dekapan ukhuwah. Semakin naik ke atas, track nya juga semakin terjal. Tapi setelah total 7 jam berjalan, semua lelah terbayar.

Sekitar pukul 4.00 sore kita sampai di puncak. Waaaw! We’re on the top of Seminung!! Pemandangannya gokil, keren banget. Samudera awan dan Danau Ranau apik banget jadi lukisan alam sore itu. Setelah melepas lelah dan foto-foto, kita mendirikan tenda. Ada tiga tenda sesuai kelompok masing-masing. Malamnya kita masak mi instan (hehe maklum di atas gunung + anak kos). Dan dilanjutkan dengan diakusi (susah emang anak organisasi sampe di gunung masih diskusi). Tengah malem semua tidur. Daaan… anginnya kenceng banget gan. Pokoknya suhunya dingin dan sukses bikin menggigil parah. Setelah melewati malam yang lumayan dingin, paginya kita menikmati sunrise. Sungguh indah alam ciptaanMu ya Allah. Lukisan itu hanya dapat dibuat oleh Allah Yang Maha Kuasa. Kita ga melewati momen ini tanpa foto-foto. Jadi mulailah kita berfoto-foto ria haha. Pagi ini ane sadar, menyukuri ciptaan Allah plus menyadari eratnya ukhuwah adalah formula terbaik untuk menikmati hidup.

image
Sunrise di puncak Seminung
image
Menikmati sunrise hehe
image
Samudera awan dan Danau Ranau

Setelah sarapan ikan kalengan dan mi instan (lagi), kita pun turun gunung pukul 9.00. Kita melewati track yang berbeda karena tujuan kita adalah pemandian air panas di samping Danau Ranau. Saat turun, kita juga tidak boleh lengah, jalan yang terjal dan licin dapat berisiko mencederai kaki. Hati-hati tetap jadi hal utama. Lagi, ukhuwah kita dituntut disini. Setelah berjalan cukup lama, pukul 1.00 siang kita sampe di pemandian air panas. Ada yang mandi air panas, ada juga yang mandi air dingin danau. Terserah hati, yang penting penat terobati. Puas satu jam berendam, kita bergegas balik ke penginapan dengan getek. Di atas getek kita menikmati keindahan Danau Ranau dan Gunung Seminung dari jauh. Indah, sangat indah.

image
Keindahan dari puncak Seminung

Setelah sampai di penginapan, kita langsung sholat dan makan siang. Perut ini udah rindu sama nasi hehe. Lalu pukul 4.00 sore, setelah pamit dengan pemilik rumah, kita pun bertolak dari Kota Batu. Di tengah perjalanan ujian datang lagi. Saat gelap mulai datang, bus sederhana kami hampir jatuh ke dalam jurang! Pasalnya saat di tanjakan berkelok, supir  ga bisa masukin persneling plus rem nya blong. Alhamdulillah masih ada ranting pohon yang menahan laju bus kami. Kalau tidak, wallahu a’lam.. mungkin tulisan ini ga akan pernah ada. Untungnya ada truk dan mobil pribadi yang lalu menolong kami. Kami pun melanjutkan perjalanan. Pulang ke Indralaya.. tempat perjuangan.

Sejatinya rihlah adalah salah satu sarana tarbiyah. Maka selalu ada poin-poin tarbiyah baik untuk diri sendiri pun kelompok dalam setiap langkah rihlah. Dan rihlah kali mengajarkan ane untuk senantiasa berdamai dengan alam, bersujud pada sang pencipta alam, dan berdekap dalam Kalam. 🙂

image
Berdekap dalam ukhuwah 🙂

Wassalamu’alaikum

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s