Dalam Rinai

Dalam setiap fragmen kehidupan ini, selalu saja ada yang datang dan pergi. Terkadang datang lalu pergi selamanya. Ada juga yang pergi sejenak lalu datang kembali. Tapi yang datang malam ini adalah tamu yang selalu konsisten. Rutin sejak aku lahir ke dunia ini. Rinainya terkadang menyejukkan kalbu. Kerap juga melelapkan karena syahdunya.
Malam ini cumbuannya terasa sangat lembut di atas kulit. Membawa nuansa kontemplatif. Diri ini terbawa dalam perjalanan masa lampau. Saat waktu berbeda, tapi rinai itu selalu sama.

Teringat saat aku masih di timangan mamah. Rinai itu membawa mataku terkatup dan lebih tenang. Saat mamah menimang penuh cinta. Hangat. Dengan lantunan lagu atau sholawat.

Lalu saat aku bersandang putih-merah. Kaki-kaki lincahku berlari menembus rinai. Bajuku kuyup, tapi semangat masa kecil tak pernah kuncup. Sepatu kusimpan di dalam kantong plastik, agar tidak basah oleh rinai itu. Biarlah kaki telanjang ini menerjang batu, pasir, dan genangan air. Ah.. saat itu sangat menyenangkan. Saat masih minim segala kewajiban.

Lalu saat celana merahku berganti biru. Awal-awal masa remaja yang sangat ceria. Rinai menyapa kembali. Masih saja kubiarkan baju ini kuyup karenanya. Bersama derap langkah yang mulai gesit. Perlahan mulai terlatih pundak ini akan kewajiban. Tawa bersama kawan selalu ada di setiap saat, saat berenang di sungai belakang, atau sekadar duduk bersama di bawah pohon kelapa.

Masa bergulir, tiba saat celana pendekku berganti abu-abu panjang. Masa-masa terindah katanya. Semakin indah saat rinai yang sama menjamahiku. Aku mulai malu-malu beradu badan dengan rinai itu. Lebih kerap lari ke bawah pelindung kepala. Sambil menikmati rinai dalam jarak. Membebaskan khayal, dengan lagu pengiring yang syahdu. Ah.. khayalan itu.. khayalan seorang pelajar tanggung yang indah-indah. Rinai itu tak lagi sekadar menyejukkan atau melelepkan, tapi menghiburku kala beban pundak ini mulai memberat. Rinai menjadi saksi lahirnya ikatan baru, ikatan dalam ukhuwah. Senyum hadir saat sedang duduk melingkar, atau saat makan bersama di wadah yang sama.

Kini rinai itu datang lagi. Mencumbu tanah yang berbeda. Tapi langit asalnya selalu sama. Pundak ini mungkin akan terasa lebih berat. Tapi seperti biasa rinai akan menghiburku. Diri ini mungkin akan lebih kerap menyepi. Tapi rinai akan menemaniku. Dan perlahan.. ketenangan hadir. Seperti dulu, saat mamah menimangku, saat rinai turun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s